Terkini :
Keluarga Besar Tgk. Muslem Hamdani Mengucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1436.H
Showing posts with label Dayah Aceh. Show all posts
Showing posts with label Dayah Aceh. Show all posts

Najmul Hidayah Al-Aziziyah Cot Meurak, Cabang Al-Aziziyah

Tepat di pinggir sungai Batee Iliek, desa Cot Meurak, kecamatan Samalanga sekitar 1 km dari jalan raya berdiri sebuah dayah yang baru aktif berjalan selama satu tahun, yaitu Dayah Najmul Hidayah al-Aziziyah. Dayah ini dipimpin oleh salah seorang alumni LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Tgk. Tarmizi M. Daud al-Yusufy. Lokasi dayah ini bertempat persis pada area tempat berdirinya sebuah dayah yang pernah berkembang pada zaman kerajaan Aceh yang dikenal sebagai Dayah Meunasah Subung Cot Meurak.

Dayah Meunasah Subung Cot Meurak Samalanga yang diasaskan pada tahun 1703 M, telah  resmi berdiri kembali tanggal 17 Juni 2012 setelah mendapat izin operasional dari Kemenag Bireuen pada 13 Maret 2012 dengan nama Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah, Meunasah Subung Samalanga. Dalam catatan sejarahnya, dayah ini diazaskan dulunya oleh seorang ulama Mekkah, Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi pada tahun 1703 M pada saat kunjungan beliau bersama abangnya Syeikh Abdurrahim Bawarith Asyi (Tgk. Syik Awe Geutah) ke Aceh pada masa Sultan Badrul Munir Jamailullail bin Syarif Hasyim (1703-1726).

Kedua intelektual ini pernah belajar di Zabid, Yaman, sebelum ke Mekkah untuk belajar pada Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji yang juga berasal dari  Zabid, Yaman. Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji menjabat mufti di Mekkah menggantikan Syeikh Abdurrauf Al-Fansuri Assingkili yang pulang ke Aceh pada tahun 1665 M. Pengajian Syeikh Abdussalam dan Syeikh Abdurrahim pada Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji diketahui dari salah satu manuskrip di Awe Geutah, Kabupaten Bireuen. Di sana terdapat sanad Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi tentang sanad hadits pengalihan kiblat (hadits musalsal), dan juga dalam silsilah ratib Haddad yang terdapat di antara lembaran-lembaran manuskrip di Awe Geutah.

Azyumardi Azra dalam bukunya "Jaringan Ulama" menyebutkan bahwa Syaik Al-Mizjaji ini seorang guru dari Murthadha Az-Zabidi (wafat 1205 H), pengarang Taj Al-‘Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin. Murthadha Az-Zabidi kemudian merantau ke Mesir dan menjadi ulama terkemuka di sana. Azra mengakui bahwa Aceh sangat berperan dalam membawa gagasan pembaharuan Islam di Nusantara.

Di Awe Geutah terdapat sebuah surat yang berdasarkan verifikasi sejarawan Aceh Nurdin AR. pada tahun 2006 menuturkan surat tersebut ditulis oleh Syeikh Abdurrahim kepada adiknya Syeikh Abdussalam (Tgk Cot Meurak) yang meminta adiknya untuk membeli kitab ketika adiknya pulang ke Mekkah. Hal ini menunjukkan bahwa Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi, pernah kembali ke Mekkah setelah membangun Dayah Meunasah Subung, Samalanga.

Kedatangan kedua anak Syaikh Jamaluddin al-Bawarith dari Zabid Yaman tersebut merupakan intruksi dari Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji dan Syeikh Ibrahim Kurani setelah  Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili meninggal pada tahun 1695. Diharapkan dengan kedatangan keduanya dapat melestarikan ajaran-ajaran Syeikh Abdurrauf. Saat itu mereka tidak hanya berdua saja, tapi juga bersama dengan tujuan di antaranya Teungku Di Kandang dan Syaikh Daud Ar Rumi.

Sebagaimana diketahui bahwa Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji, Syeikh Ibrahim Kurani, dan Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili adalah murid daripada Ahmad Qushashi, Ahmad Shinawi, dan `Abd Karim al-Kurani, yang mengembangkan tarekat Shattariyyah di Haramain. Maka tidak mengherankan kalau sampai sekarang di kawasan Samalanga dan sekitarnya masih sangat berkembang tariqat Shattariyyah.

Dayah Meunasah Subung Hancur

Pada masa Perang Aceh melawan kolonial Belanda yang dimulai pada tanggal 26 Maret 1873 banyak ulama-ulama yang langsung memimpin sendiri pertempuran, hal ini mengakibatkan banyak dayah yang terlantar. Salah satu benteng kuat pertahanan Aceh adalah Batee Iliek Samalanga. Belanda kewalahan mengalahkan benteng Batee Iliek, sampai pada tahun 1877 Jenderal Van Der Hijden terkena tembakan sehingga menyebabkan satu matanya buta sshinggal dikenal jenderal bermata satu. Belanda membutuhkan 28 tahun (1873-1901) untuk dapat mengalahkan benteng Batee Iliek yang jauhnya hanya 200 meter dari Dayah Meunasah Subung yang diasaskan oleh Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi pada tahun 1703 M.

Ketika benteng Batee Iliek ditaklukkan oleh Van Heutzh pada tahun 1901, dayah Meunasah Subung yang dipimpin oleh Syeikh Yahyauddin Bin Abdurrahim Bawarith, cicit Syeikh Abdussalam, turut dihancurkan sehingga seluruh manuskrip dan kitab-kitab ikut terbakar.

Pada tahun 1930-an, Tgk. H. Abdullah yang pulang dari Mekkah berkeinginan menghidupkan kembali Dayah Meunasah Subung. Namun Belanda melarangnya dengan dalil akan bangkit kembali semangat anti Belanda di Samalanga. Belanda sangat mengawasi apapun gerakan keagamaan di sana yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politiknya. Sejak itu,  Dayah Meunasah Subung hanya tinggal nama dan warisan tanah wakaf dayah hingga di Mekkah di kawasan Syammiyah. Namun sejak tahun 2008, tanah wakaf itu  termasuk wilayah perluasan Masjidil Haram. Hingga kini, proses ganti rugi tanah masih diproses di Mahkamah Syariah Mekkah.

Berdasarkan tanah-tanah wakaf yang membudaya di Aceh pada masa lalu hingga terbentang di Mekkah, kita bisa memahami mengapa Aceh disebut Serambi Mekkah. Sebab di halaman Masjid Haram terdapat berhektar-hektar tanah wakaf masyarakat Aceh yang diwakafkan untuk dunia pendidikan seperti asrama sejak masa Chik Pante Kulu. Budaya wakaf tanah yang dulu sangat dimininati oleh rakyat Aceh patut dilestarikan karena itu bagian dari amal dari dunia karena dengan menyumbang harta akan melimpah hingga ke akhirat karena itu ajuran agama.

Kembali aktif

Setelah sekian lama non-aktif, akhirnya dayah ini kembali diaktifkan dan diresmikan oleh Abu MUDI sendiri pada tanggal 17 Juni 2012 sebagai cabang dari Yayasan Al-Aziziyah yang ke-175 dengan  pimpinan seorang ulama muda lulusan MUDI Mesjid Raya, Tgk. Tarmizi M. Daud al-Yusufi. 



Ulama muda kelahiran tahun 1973 ini merupakan anak salah satu ulama Aceh Selatan, Tgk. H. Muhammad Daud yang merupakan anak pimpinan Dayah Babussa'adah Aceh Selatan. Beliau menjadi santri tingkat 'aliyah di Dayah Mudi pada tahun 1993. Kelebihan dan bakat beliau dalam memahami kitab kuning sudah terlihat semenjak kecil, hingga akhirnya diangkat menjadi guru di lembaga tersebut. Karir beliau terus menanjak hingga akhirnya ditunjuk sebagai pengajar di Balee Beuton ba`da ashar bagi seluruh dewan guru yang sebelumnya diasuh langsung oleh Abu MUDI sendiri. Kitab yang dikaji dalam halakah tersebut adalah khusus kitab dalam ilmu alat. Semenjak tahun 2007 sudah beberapa kitab yang beliau ajarkan sampai khatam seperti Hasyiah Ahmad Shawi fi ilm al-Bayan, Ghayatul Wushul fi Ushul Fiqh karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, Mushtasfa fi Ushul Fiqh karangan Imam Ghazali dan saat ini kitab yang sedang di kaji adalah Syarh Syamsiah fi ilm Mantiq. Selain sebagai guru senior, jabatan penting lain yang pernah beliau duduki di MUDI  Ketua Pembinaan Lembaga Bahtsul Masail (LBH) MUDI Mesjid Raya Samalanga, dan Staf ahli bidang Mubahatsah Alumni Dayah MUDI Mesjid Raya dalam mengahadapi beragam problematika yang muncul sekarang ini.


Pada tahun 2012 beliau diminta untuk memimpin Dayah Meunasah Subung yang baru dibangun kembali yang letaknya tidak jauh dari dayah MUDI sendiri. Walaupun telah disibukkan mengurus Dayah Najmul Hidayah, beliau masih tetap eskis mengajar dewan guru di Balee Beuton Dayah MUDI Mesjid Raya. Selain itu juga sering menggantikan Abu MUDI sebagai pengajar di beberapa majelis pengajian ketika Abu berhalangan. 



Saat ini Dayah Najmul Hidayah yang masih baru lahir kembali, terus didatangi para santri dari berbagai daerah bahkan juga santri dari luar propinsi Aceh seperti Jambi. Kehadiran Dayah Najmul Hidayah semakin menambah citra kota Samalanga sebagai Kota Santri yang merupakan kecamatan yang paling banyak memiliki Dayah Salafi. - Sumber: www.mudimesra.com

Majelis Zikir Dayah MUDI Hantam Wahabi

Majelis zikir Zikra Al-Hasani LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Minggu (02 Februari 2014) memeriahkan Majelis Maulid di balai pengajian Baitusshabri, Gampong Dayah Baroe, Kecamatan Jeunieb, kabupaten Bireuen. Acara digelar dengan beragam kegiatan, diantaranya, santunan anak yatim, zikir dan shalawat, serta tausiah.

Acara dimulai setelah shalat ‘Isya berjama’ah yang dibuka oleh pimpinan Balai Pengajian Baitussabri. Dalam pembukaan yang sekaligus penyantunan kepada enam belas anak yatim, Tgk. Razali Nurdin menyampaikan tentang pentingnya kepedulian kita kepada anak yatim, “Inilah salah satu anjuran Rasulullah Saw, beliau begitu mencintai dan menyayangi anak yatim. Anak-anak yang ada di hadapan kita ini merupakan anak yang Allah titipkan kepada kita semua, hari ini kita menyayangi mereka Insya Allah suatu hari anak kita akan disayangi oleh orang lain jika kita sudah tiada, ta anggap nyoe aneuk kandong droe teuh (anggaplah dan perlakukan anak-anak ini sebagai anak kandung kita sendiri).” suasana haru timbul ketika pembagain bingkisan oleh ayahanda Tgk. Razali Nurdin, beliau mencium ubun-ubun mereka dengan penuh rasa cinta, dibarengi lantunan shalawat oleh tim zikir. Para jama’ah yang menyaksikan terdengar isak tangis haru tidak bisa menahan air matanya.

Kemudian dilanjutkan dengan zikir dan Shalawat yang dipandu oleh Majelis  Zikir dan Shalawat Zikir AL-Hasani LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga selama empat puluh lima menit, setelahnya tausiah pertama oleh Tgk. Muhammad Kasem Abdullah, beliau merupakan Alumni Dayah MUDI asal Jeunieb yang sekarang tinggal di Caleue, Pidie. Menantu Ayah Caleue dan beliau yang pernah menjabat sebagai Ketua Bagian Pendidikan Dayah MUDI ini menyampaikan ilmu yang sangat bermanfaat, tentang akhlak mulia, dan kesabaran Rasulullah Saw.

“Nabi Muhammad Saw wate ka diserang oleh kaum Qureish payah mengungsi dan wate nyan Nabi neu hijrah u Thaif, nabi neupike keunan aman, tapi terntyata troh keunan ji rhom ngon aneuk bate le aneuk aneuk miet kaum Thaif nyan sampe Nabi berdarah-darah geuh, tiba-tiba troh malaikat Jibril neutawarkan untuk geulungkop gunong ateuh kaum nyan, tapi nabi neujaweub bek,  awak nyan hana itupu lom, hana ituoh. Nyan ban keuh akhlak Nabi geutanyoe” Kata Tgk. Kasem Abdullah dengan nada sedih.


Selama tiga puluh menit menyampaikan tausiahnya, kemudian dilanjutkan tausiah oleh yang mulia Tgk. H. Sulaiman Hasan. Alumni Zabid Yaman ini meyampaikan pentingnya bershalawat, karena lewat bershalawat akan timbul rasa mahabbah kita kepada Rasulullah Saw. Beliau menceritakan juga kisa Shalahuddin al-Ayyubi menggalang kekuatan batin umat Islam ketika itu untuk merebut kembali Mesjid al-Aqsa dari tangan Yahudi. Shalahuddin al-Ayyubi memperlombakan menulis kitab pujian kepada Rasulullah Saw. Perlombaan itu dimenangkan oleh kitab Maulid al-Barzanji. Maka seluruh umat Islam berkumpul membacakan Maulid al-Barzanji. Lewat pembacaan Maulid umat Islam ketika itu merasakan kecintaannya kepada Islam dan Rasulullah. Kekuatan batin inilah yang mengantarkan kepada kemenangan umat Islam merebut kembali Mesjid al-Aqsha dari tangan Yahudi.

“Yahudi tahu benar kekuatan batin yang menjadi nuklir kekuatan umat Islam, mereka berusaha sekuatnya menghilangkan kekuatan batin ini dari umat Islam, kekuatan mencintai nabi, kekuatan rabitah silsilah Thariqat dan lain-lain. Satu stategi yanng dilancarkan Yahudi adalah menciptakan sebuah gerakan yang akan memisahkan kekuatan batin ini dari umat Islam. Mereka telah berhasil melakukan ini lewat menciptakan Wahabi oleh misionaris yahudi beberapa ratus tahun yang lalu. Maka karena itu, Wahabi mengharamkan perayaan Maulid, pengamalan ibadah berthariqat dan lain-lain, wahabi menghancurkan semua peninggalan Rasulullah Saw di Makkah, supaya umat Islam tidak lagi mencintai Rasulnya." kata Tgk. H. Sulaiman Hasan.


Acara yang bertajuk “Malam Cinta Rasul menuju Mahabbahnya” ini dihadiri oleh segenap alumni MUDI dari seputaran Jeunieb dan sekitarnya, ratusan masyarakat, kelompok Mejelis Ta’lim, dan juga keluarga besar Dayah Dhiyaul Haq Al-Aziziyah yang dipimpin oleh Abi Nasruddin. Masyarakat dan santri hadir berbondong-bondong dengan menggunakan bus dan mobil truk dalam balutan baju jubah putih. 


Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah, Hidupkan Kembali Dayah Masa Belanda

Historis
DAYAH Meunasah Subueng Cot meurak Samalanga yang diasaskan pada tahun 1703 M, telah  resmi berdiri kembali  tanggal 17 Juni 2012, setelah mendapat izin operasional dari Kementerian Agama Kabupaten Bireuen pada tanggal 13 Maret 2012, yang dinamakan dengan Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah, Meunasah Subueng Samalanga. 

Dalam catatan sejarah, dayah ini diazaskan dulunya oleh seorang ulama Mekkah Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi  pada tahun 1703 M untuk mengupas riwayat hidup Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi ini, yang berasal dari Mekkah yang menetap di Cot Meurak, Samalanga Kabupaten Bireuen. 

Kedatangan Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi  bersama abangnya Syeikh Abdurrahim Bawarith Asyi (Tgk Syik Awe Geutah) ke Aceh pada masa Sultan Badrul Munir Jamailullail bin Syarif Hasyim (1703-1726).

Kedua intelektual itu  sebelum tiba di Kerajaan Aceh, mereka belajar di Zabid, Yaman. Kemudian ke Mekkah   pada Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji yang berasal dari  Zabid, Yaman.  Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji menjabat mufti di Mekkah menggantikan Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili yang pulang ke Aceh pada tahun 1665 M.  

Pengajian Syeikh Abdussalam dan Syeikh Abdurrahim  pada Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji,  diketahui dari salah satu manuskrip di Awe Geutah Kabupaten Bireuen.  Di sana terdapat sanad Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi tentang sanad hadits pengalihan kiblat (hadits musalsal), dan juga dalam silsilah ratib Haddad yang terdapat di antara lembaran-lembaran manuskrip di Awe Geutah.

Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama menyebutkan, Syaik Al-Mizjaji ini seorang guru dari Murthadha Az-Zabidi (wafat 1205 H), pengarang Taj Al-‘Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Saadah AlTaj Al-’Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin . Murthadha Az-Zabidi kemudian merantau ke Mesir dan menjadi ulama terkemuka di sana. Azra mengakui bahwa Aceh sangat berperan dalam membawa gagasan pembaharuan Islâm di Nusantara.

Di Awe Geutah terdapat sebuah surat yang berdasarkan verifikasi sejarawan Aceh Nurdin AR. pada tahun 2006 menuturkan surat tersebut ditulis oleh Syeikh Abdurahim kepada adiknya Syeikh Abdussalam (Tgk Cot Meurak) yang meminta adiknya untuk membeli kitab ketika adiknya pulang ke  Mekkah.

Di sini menunjukkan bahwa  Syeikh Abdussalam bawarith Asyi, pernah kembali ke Mekkah setelah membangun Dayah Meunasah Subung, Samalanga.

Kedatangan Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi bersama abangnya Syaikh ‘Abdurrahim Bawarith al-Asyi anak Syaikh Jamaluddin al-Bawarith dari Zabid Yaman dengan  tujuh ulama lain, di antaranya Teungku di Kandang dan Syaikh Daud Ar Rumi, atas intruksi dari pada Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji dan Syeikh Ibrahim Kurani setelah  Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili yang meninggal pada tahun 1695, maka teman teman Syeikh Abdurrauf di Mekkah  mengirim muridnya  ke Aceh agar ajaran-ajaran Syeikh Abdurrauf AlFansuri tetap kekal dan berkembang di Aceh. 

Sebagaimana diketahui bahwa Syeikh Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji, Syeikh Ibrahim Kurani, dan Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili adalah murid daripada Ahmad Qushashi, Ahmad Shinawi, dan `Abd Karim al-Kurani, yang mengembangkan tarekat Shattariyyah di Haramayn. Maka wajar sampai sekarang dikawasan Samalanga dan sekitarnya masih sangat berkembang tarekat Shattariyyah.

Dayah Meunasah Subung Hancur
Perang Aceh melawan kolonial Belanda yang dimulai pada tanggal 26 Maret 1873 antara lain dipimpin oleh kalangan ulama yang langsung memimpin pertempuran. Dampak ulama bertempur yakni ada dayah-dayah  yang terlantar. Salah satu benteng kuat pertahanan Aceh adalah Batee Iliek Samalanga. Belanda kewalahan mengalahkan benteng Batee Iliek, sampai pada tahun 1877 Jenderal Van Der Hijden terkena tembakan sehingga menyebabkan satu matanya buta sshinggal dikenal jenderal bermata satu.

Belanda membutuhkan 28 tahun (1873-1901) untuk dapat mengalahkan benteng Batee Iliek yang jauhnya hanya 200 meter dari Dayah Meunasah Subung yang diasaskan oleh Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi pada tahun 1703 M.

Ketika benteng Batee Iliek ditakluki oleh van Heutzh pada tahun 1901,  dayah Meunasah Subung yang dipimpin oleh Syeikh Yahyauddin Bin Abdurrahim Bawarith, cicit Syeikh Abdussalam turut dihancurkan sehingga seluruh manuskrip dan kitab-kitab ikut terbakar.

Pada tahun 1930-an, Tgk H Abdullah yang pulang dari Mekkah berkeinginan menghidupkan kembali Dayah Meunasah Subung. Namun  Belanda melarangnya dengan dalil akan bangkit kembali semangat anti Belanda di Samalanga. Belanda sangat mengawasi apapun gerakan keagamaan di sana yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politiknya. Sejak itu,  Dayah Meunasah Subung hanya tinggal nama dan warisan tanah wakaf dayah hingga di Mekkah di kawasan Syammiyah. Namun sejak tahun 2008, tanah wakaf itu  termasuk wilayah perluasan Masjidil Haram. Hingga kini, proses ganti rugi tanah masih diproses di Mahkamah Syariah Mekkah.

Berdasarkan tanah-tanah wakaf yang membudaya di Aceh pada masa lalu hingga terbentang di Mekkah, kita bisa memahami mengapa Aceh disebut Serambi Mekkah? Sebab di halaman Masjid Haram terdapat berhektar-hektar tanah wakaf masyarakat Aceh yang diwakafkan untuk dunia pendidikan seperti asrama sejak era Chik Pante Kulu. 

 Budaya wakaf tanah yang dulu sangat dimininati oleh rakyat Aceh patut dilestarikan karena itu bagian dari amal dari dunia karena dengan menyumbang harta akan melimpa hingga ke akhirat karena itu ajuran agama

Tgk Tarmizi HM Daud Al Yusufi (Penggagas Kembali)
Kembali pada Dayah Meunasah Subung Samalanga yang diasaskan oleh Syeikh Abdussalam Bawarith, yang dihancurkan oleh Belanda kini telah berdiri kembali yang dipimpin oleh Tgk Tarmizi HM Daud Al Yusufi,  Sudah selayaknya Samalanga yang dikenal sebagai Kota Santri sejak era Sultan Iskandar Muda harus bisa  menghasilkan santri-santri berjiwa Aceh, berotak Jerman dan berhati Mekkah. 
Sumber: Saputra Mudi 

MUDI Mesra, Reformis Tradisi Dayah Aceh

KELUAR dari tradisi yang sudah mengakar di lingkungan dayah di Aceh, tentu bukan perkara mudah. Tetapi, tidak juga susah untuk dilakukan oleh Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga.

Di bawah kepemimpinan Tgk. H. Hasanul Basri (Abu Mudi) Dayah ini melakukan banyak terobosan dan perubahan signifikan menyambut tantangan era globalisasi. Salah satu yang mengejutkan, pada tahun 2001 didirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-’Aziziyah (STAIA). Kebijakan Abu Mudi tersebut, sempat mengundang kontroversial besar di antara alumni MUDI dan dayah-dayah lain di Aceh.
Namun, dalam perjalanannya, Dayah ini tetap mempertahankan tradisi dayah sekaligus menerapkan manajemen modern secara institutional. Kehadiran STAIA ketika itu, tentu sebuah kejutan yang mendobrak tradisi pendidikan dayah di Aceh yang berkurikulum kitab kuning dan tidak menganggap penting gelar kesarjanaan umum. 

 Sejarah
Dayah MUDI Mesra berada di Desa Mideuen Jok, Kemukiman Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, merupakan salah satu dayah salafiyah tertua di Aceh maupun Asia Tenggara. Dayah ini sudah berdiri sejak masa Sultan Iskandar Muda. Namun, baru sekitar tahun 1927 dayah tersebut berkembang saat dipimpin oleh Al-Mukarram Tgk H Syihabuddin Bin Idris. Saat dipimpin Tgk H Syihabuddin bin Idris, jumlah santri di Dayah tersebut sebanyak 100 orang putra dan 50 orang putri. Mereka diasuh oleh 5 orang tenaga pengajar lelaki dan dua guru putri. Saat itu, asrama tempat menginap santri hanyalah barak-barak darurat yang dibuat dari bambu dan rumbia. Setelah Tgk H Syihabuddin Bin Idris wafat tahun 1935, dayah MUDI Mesjid Raya dipimpin oleh adik iparnya, Al-Mukarram Tgk H Hanafiah bin Abbas atau lebih dikenal dangan gelar Tgk Abi. Jumlah santri saat itu, mulai meningkat menjadi 150 orang santri putra dan 50 orang putri. 

Pada masa kepemimpinan Tgk Abi, pimpinan dayah pernah diwakilkan kepada Tgk M Shaleh selama dua tahun ketika Tgk Abi berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama.
Setelah almarhum Tgk H Hanafiah wafat (1964) dayah tersebut dipimpin oleh salah seorang menantunya, yaitu Tgk H Abdul Aziz Bin Tgk M Shaleh. Almukarram yang dipanggil dengan Abon yang bergelar Al-Mantiqiy ini adalah murid dari Abuya Muda Wali pimpinan Dayah Bustanul Muhaqqiqien Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Semenjak kepemimpinan Tgk H Abdul Aziz, Dayah MUDI mengalami kemajuan. Santri yang mondok tidak hanya datang dari Aceh melainkan dari wilayah lain di Sumatera. Barak-barak santri mulai dibangun permanen. Setelah Tgk H Abdul ‘Aziz Bin M Shaleh wafat tahun 1989, pergantian kepemimpinan dayah ini dilakukan dengan cara musyawarah alumni dan masyarakat. Melalui berbagai pertimbangan, alumni mempercayakan dayah kepada salah seorang menantu Tgk H Abdul Aziz yaitu Tgk H Hasanoel Bashry Bin H Gadeng yang kini akrab disapa Abu MUDI. 
Beliau Merupakan santri lulusan dayah tersebut yang sudah berpengalaman mengelola kepemimpinan dayah semasa Abon Aziz sakit. Sejak 1989, dayah tersebut dipimpin Abu MUDI dan mengalami kemajuan cukup pesat. Saat ini, tercatat ada 6.500 santri yang belajar di Dayah ini. Para santri tidak hanya dari Aceh, melainkan datang dari Pulau Jawa, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan Australia.

Zikir Warnai Tahun Baru di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah

Goup Zikir As-Sunnah
Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Besar sedang menyiapkan pelaksanaan zikir akbar menyambut peringatan Tahun Baru Islam 1435 H yang akan jatuh pada 5 November 2013 nanti. Pelaksanaan zikir itu sendiri akan dilakukan di komplek dayah tersebut.
Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Dayah Mahyal Ulum, Tengku Muslem Hamdani Jum’at (1/11/2013) menyebutkan, zikir akbar tersebut akan dipimpin oleh Majelis Zikir As-Sunnah. Pelaksanaan zikir itu dilakukan lebih ceat, yakni pada tanggal 3 November 2013.
“Minggu malam, 3 November usai Shalat Maghrib. Zikir ini InsyaAllah akan diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat untuk menambah nilai tahun baru islam,” ujarnya.
Selain pelaksanaan zikir, Muslem menambahkan pihaknya juga akan menggelar serangkaian perlombaan bagi santri-santri dayah. Dia berharap, kegiatan tersebut dapat memicu peningkatan gerakan-gerakan islami di tengah-tengah msyarakat dalam tahun baru mendatang.
Sementara itu Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Besar, Tengku H Faisal Ali mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyambut Tahun Baru Islam 1435 H dengan kegiatan-kegiatan positif dan islami. Harusnya, pergantian waktu hijriah ini diperingati dengan kegiatan akbar yang bisa memicu keingintahuan masyarakat banyak terhadap Islam itu sendiri.
“InsyaAllah dengan begitu mungkin juga akan menjadi promosi bagi Islam dan Aceh secara khusus yang istimewa dengan Syariat Islam,” ujarnya yang juga dikenal dengan sebutan Abu Sibreh.

Tokoh

Selengkapnya »

KAJIAN ISLAM

Selengkapnya »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Muslem Hamdani - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack